Saat berpisah, tentu kita ingin ditemani dan diantar oleh sahabat kita kan?
Begitu juga aku, dan untung saja, sampai di saat terakhirku di Jogja, sahabatku yang sudah kuanggap sodara bagiku mau menemaniku. Bahkan, bela-belain mengantarkanku ke stasiun. Karena dia tahu kondisiku yang sedang lemah dan bawaan yang segunung tentunya.
Perpisahan itu berlangsung cepat, karena kereta sudah siap beranjak. Thanks bro… kamu memang sodara seperjuanganku.

Oh sebelum meninggalkan Jogja, kuingat lagi bagaimana aku datang ke Jogja dan tinggal di rumah mungil nan sederhana. Banyak kisah yang terjadi di situ, di mana ada sedih, senang, marah dan sebagainya. Di rumah itu, aku pernah jatuh cinta, patah hati, kecewa, seperti lagu dangdut “jatuh bangun” kurasakan. Percaya atau tidak di setiap sudut rumah itu ada cerita yang mungkin akan membuatku tertawa jika suatu hari nanti aku mengingatnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar