Kamis, 29 Desember 2011

di rumah sakit

adahal2 yg gw inget sampe skrg, wkt di rs, gw di inf, kalo pagi warnanya pink, kalo sorw bening. ibu yang menemaniku malam hari, suara ngoroknya waktu tidur, lama2 terdengar seperti nyanyian surga... aku tahu, tanda dari tidur ibuku yang nyenyak adalah dengkurannya. semakin nyenyak, lega aku. karena ak tahu bagaimana repotnya ibuku menjagaku. ibu, makasih ya...

Rabu, 28 Desember 2011

sakit itu ternyata...

siapa yang menyangka kalo penyakit yang ku derita adalah penyakit langka... aku baru mengetahuinya setelah penyakit itu tiba2 terkenal di tv. nama penyakitku adalah gbs. coba cari di mbah google, pasti ketemu.
mgkin aneh, tp aku baru sadar, dokter yang merawatku saat itu mencoba menyemangatiku dengan caranya. aku merasa menjadi pasien yg beruntung, krn bisa kembali berjalan dengn waktu yang lumayan singkat...

ikuti ceritakku...

Selasa, 08 Februari 2011

Rahasia itu terungkap
Langkahku kian melambat begitu keluar dari kereta. Aku tidak perlu mengkhawatirkan barang2ku karena sudah ada yang membawakan samapai ke bawah. Tapi, aku bingung melihat anak tangga yang cukup banyak di didepanku. Aku tahu kemampuan kakiku saat itu, untuk turun dari tangga yang biasanya bisa kuloncati atau sambil berlari, kini harus ku rambati satu persatu.
Aku dijemput ayank di stasiun. Begitu sampai tempat parkir, aku memutuskan menunggu di tepi jalan keluar, karena tidak sanggup lagi berjalan. Kakiku seperti mengambang, badanku lemas dan aku benar2 lelah. Ayank membantuku naik mobilnya, di dalam mobil aku mencoba memejamkan mata sejenak, tapi tidak bisa. Paling tidak ada perasaan lega, karena aku sudah tiba di Jakarta.

Sesamapai di rumah, ibu menyambutku dengan terheran2. Cara jalanku yang aneh dan badanku yang semakin kurus membuatnya sedikit khawatir. Napsu makanku malam itu sangat jelek, tidak ada sesuap nasi pun yang dapat kutelan, akhirnya ibu menyuruhku memakan roti yang kebetulan tersedia cukup banyak.

Paginya, kakiku yang kesemutan makin menujukkan gejala yang aneh. Saat aku sedang berjalan dengan santai, tiba2 salah satu lututku lemas, sehingga keseimbanganku terganggu. Aku mulai memakai tongkat kayu seperti nenek2, tongkat itu hanya kutenteng untuk jaga2. Tapi, tampaknya semua percuma, karena saat aku menuruni anak tangga yang jaraknya tidak jauh, lutuku kembali lemas dan aku terjatuh. Seelah itu aku tidak berani berjalan tanpa merambat,karena lututku yang selalu tiba2 lemas dan membuatku terjatuh.

Hari itu, aku memutuskan untuk tetap berada di tempat tidur, berbekal air mineral dan buku novel.
***
5 Desember 2009

Beberapa hari berikutnya, aku makin tidak bisa berjalan sendiri alias harus dituntun. Ada apakah gerangan dengan tubuhku. Kedua orangtuaku berjanji membawaku ke rumah sakit.

Hari ini keponakanku berulang tahun yang ke 1. Zefira namanya. Tapi, karena harus ke rumah sakit, aku belum tahu kapan bisa menyerahkan kado untuknya.

Sesampai dirumah sakit siang itu, dokter umum menyuruhku untuk memeriksakan ke dokter special syaraf. Aku diberikan surat pengantar. Alasan dokter itu karena penyakitku mungkin berkaitan dengan syaraf.

Aku dan kedua orangtuaku balik lagi ke rumah sakit sore itu. Kami menemui dokter syaraf yang seorang wanita. Pembawaannya tegas, mungkin karena itu pasien2 sepertiku bisa lebih menurut. Dia memeriksaku dan dengan cepat menyuruh kedua orangtuaku berdiskusi, karena aku harus masuk rumah sakit untuk di opname saat itu juga.

Semua berlangsung cepat, orangtuaku setuju. Aku menjalani beberapa tes, dan aku bermalam di rumah sakit malam itu.

Seumur2, belom pernah aku nginep di rumah sakit. Baju ajagak bawa, apalagi alat komunikasi macem hape.Aku minta agar bapakku membawakan hapeku yang tertinggal di rumah, beserta baju2 dasterku. Mana enak, berbaring pake baju yang gak longgar. Daster adalah pakaian kebangsaan saat di rumah.
***

Minggu, 23 Januari 2011

1 Desember 2009

Kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun, yang mungkin sudah berpuluh2 kali ku datangi. Di sebelahku duduk bapak2 separobaya yang asyik membaca Koran. Basa basi pun berlangsung singkat. Aku mencoba untuk tertidur.

Perjalanan sudah setengah jalan, batukku makin memburu. Aku merasa badanku terasa kaku, aku pun bernjak mencari kursi kosong agar bisa kakiku selonjoran, kebetulan orang yang duduk di depanku telah turun di stasiun sebelumnya. Ah, untuk berdiri dan melangkah kenapa sulit sekali ya?

Setelah puas selonjoran, aku balik ke bangkuku. Bapak2 yang duduk di sampingku bertanya apakah aku sedang sakit? Sepertinya dia khawatir sekali. Sampai2 di saat terakhir dia bertanya bagaimana aku menurunkan bawaanku yang banyak itu dan apakah ada yang menjemputku. Ku jawab dengan sopan, bahwa orang yang menjemputku sudah tiba di stsiun tujuan. Bapak itu berpesan, agar aku menjaga kesehatan dan segera ke dokter karena dia melihatku pucat.
***
Saat berpisah, tentu kita ingin ditemani dan diantar oleh sahabat kita kan?
Begitu juga aku, dan untung saja, sampai di saat terakhirku di Jogja, sahabatku yang sudah kuanggap sodara bagiku mau menemaniku. Bahkan, bela-belain mengantarkanku ke stasiun. Karena dia tahu kondisiku yang sedang lemah dan bawaan yang segunung tentunya.

Perpisahan itu berlangsung cepat, karena kereta sudah siap beranjak. Thanks bro… kamu memang sodara seperjuanganku.



Oh sebelum meninggalkan Jogja, kuingat lagi bagaimana aku datang ke Jogja dan tinggal di rumah mungil nan sederhana. Banyak kisah yang terjadi di situ, di mana ada sedih, senang, marah dan sebagainya. Di rumah itu, aku pernah jatuh cinta, patah hati, kecewa, seperti lagu dangdut “jatuh bangun” kurasakan. Percaya atau tidak di setiap sudut rumah itu ada cerita yang mungkin akan membuatku tertawa jika suatu hari nanti aku mengingatnya.
***

Selasa, 18 Januari 2011

Setelah berurusan dengan bentol2 karena si ulat bulu, hari-hariku di penuhi kesibukan yang melellahkan. Kadang harus bolak-balik kampus tanpa hasil, untuk fotokopi, legalisir dan sebagainya. Berhubung urusan di kampus belum selesai, aku memutuskan untuk pulang ke Jakarta belakangan. Badanku remuk kecapekan. Tiket kereta kudapatkan dengan perjuangan, karena saat itu sedang liburan karena ada cuti bersama lebaran haji. Alhasil, antrean no 799 untuk mendapat karcis kudapatkan.

Jangan berharap dengan no antrean segitu bisa mendapatkan tiket sebelum lebaran haji, kenyataan itu sudah ku antisipasi. Tiket yang ku beli adalah tiket setelah lebaran, yang menurut perhitunganku masih banyak karena berada saat hari kerja.

Mungkin karena kupaksakan dan pola makanku tidak teratur, aku mulai terserang flu. Gejala kepala pusing, badan demam, batuk2, disertai pilek mulai menghampiri. Napsu makanku makin turun, nasi tidak bisa kutelan, melihatnya saja membuatku mual. Malam itu, badanku demam, aku memutuskan tidur dengan kepala di kompres, jauh lebih baik, tapi tidak mengurangi pegal2ku.

Lebaran haji atau Idul Adha tiba, biasanya aku bersiap2 untuk solat di masjid. Tetapi, aku memutuskan untuk tidak berangkat karena kepalaku pusing, daripada pingsan di jalan.

Andai aku tahu penyakit yang tidak kuduga2 sudah mendekatiku, pasti aku akan menjaga badanku.

Pagi ynag cerah, akuniat ke kampus untuk terakhir kalinya, tapi ada yang aneh dengan badanku. Dari perut hingga jari kakiku terasa seperti kesemutan, Kupikir itu semua karena aku memakai celana yang cukup ketat saat tidur.

Langkahku mulai terseok2, telapak kakiku seperti berjalan di atas kasur. Aneh…

Pulang dari kampus masih kusempatkan untuk membeli kado buat keponakanku. Diantara langkahku yang kian terasa berat, kudapatkan baju yang cantik untuk keponakanku yang akan berulang tahun.

Kamis, 13 Januari 2011

Pernahkah kamu merasakan gatal yang amat sangat karena ulat bulu?
Aku pernah, dan herannya selalu aku yang menjadi korban kegatelan ulat bulu di saat aku berkelompok. Seperti kisah saat kuliah lapangan atau yang dikenal sebagai KKN, saat itu kelompok kami mendapat ujian tertulis, dan kami berkumpul di sebuah SD yang cukup bagus. Tapi, sayang sekali ada ulat bulu yang menggangguku, hanya bulu yang berterbangan itu yang membuatku gatel, ketemu ulatnya? Boro2.

Kisah kedua, sehabis pulang wisuda, ternyata di kamar yang bertaon2 ku tempati juga di tempati binatang2 aneh lainnya, macem lebah yang membuat sarang lebag di gorden, atau ulat bulu yang membaut kepompong. Andaikan itu ulat tidak membuat gatal aku dan ibuku, laen lagi ceritanya. Karena ternyata si ulat yang berubah menjadi kepompong dan keluar menjadi kupu2, tidak ketauan rimbanya, dan hanya meninggalkan sarang kepompong yang gatel itu. Korban paling paling parah adalah aku. Yang lain mengalami gatal2 sekunder. Hehehe
Ajaibnya, gatal 2 ulat bulu meninggalkan jejak yang tidak hilang sampai beberapa bulan lamanya.

Kalau dulu ku bilang aku tidak takut ataupun jijik dengan ulat bulu. Sekarang, aku tetap tidak takut, yang ada aku kapok dengan si mahkluk kecil nan gatal itu.
***

Selasa, 11 Januari 2011

Pagi yang sibuk dan membuat gerah. Entah karena pawing hujan yang berhasil membuat pagi itu begitu cerah karena adanya wisuda di sebuah Universitas Negeri yang terkenal itu atau karena cuaca memang ekstrim akhir2 ini. Gunung merapi yang gagah tampak indah pagi itu. Hanya satu yang membuat menjadi tidak indah pagi itu, aku harus bangun jam 4 dan menuju ke tukang rias, baru selesai jam 5 karena menunggu antrean, sarapan yang tidak selera-karena muka penuh bedak- dan harus tiba tepat waktu di kampus yaitu jam 6 pagi. Sebenarnya aku masih jauh beruntung karena diantar kedua orang tuaku dengan mobil, sedangkan temanku dengan sanggul yang mencolok harus dibonceng dengan motor dengan kecepatan kilat. Untunglah hanya sasakan bagian poni yang hancur, jadi dia bisa mengikuti wisuda layaknya ibu kartini, sama sepertiku.

Selesai wisuda di kampus, masih ada lagi acara di Fakultas, semuanya menjadi satu paket beserta nasi kotakannya. Tak lama acara selesai dan peserta wisuda berserta emak babenya pulang. Seperti dugaanku, hujan pun tiba2 dengan penuh semangat membasahi bumi. Itu berarti pawing hujan di kontak sampai jam 12 siang saja.
***

Kamis, 06 Januari 2011

masih di Jogja

Yogyakarta, November 2009
Ternyata, mengurus wisuda merupakan hal yang menyusahkan setelah skripsi. Bolak-balik kampus rumah, bolak-balik fotokopi, ngeprint, online, dan masih banyak lagi seperti mengambil toga dan peralatannya, bahkan masih diharuskan berkumpul di dua tempat, yaitu kampus dan fakultas.
Itu masih di lingkungan kampus, urusan merias wajah alias salon, kebaya dan orang tua yang akan menyaksikan pehelatan akbar anak bungsunya pun membuat ribet. Bukan apa-apa, sebagai pendatang yang gak pernah ke salon buat merias wajah, mencari orang yang bisa dipercaya agar penampilan kinclong saat wisuda adalah hal yang harus diperhatikan. Bisa-bisa kayak ondel2 kalau salonnya tidak terjamin mutunya. Bukan maein tukan rias itu, untuk wisuda mereka sudah membuka pintu rumah mereka dari jam 4 pagi dan itu harus dengan janji seminggu sebelumnya. Penyebabnya adalah karena universitas yang terkenal itu memulai wisuda dari jam 6 pagi… wow…..
***