Selasa, 08 Februari 2011

Rahasia itu terungkap
Langkahku kian melambat begitu keluar dari kereta. Aku tidak perlu mengkhawatirkan barang2ku karena sudah ada yang membawakan samapai ke bawah. Tapi, aku bingung melihat anak tangga yang cukup banyak di didepanku. Aku tahu kemampuan kakiku saat itu, untuk turun dari tangga yang biasanya bisa kuloncati atau sambil berlari, kini harus ku rambati satu persatu.
Aku dijemput ayank di stasiun. Begitu sampai tempat parkir, aku memutuskan menunggu di tepi jalan keluar, karena tidak sanggup lagi berjalan. Kakiku seperti mengambang, badanku lemas dan aku benar2 lelah. Ayank membantuku naik mobilnya, di dalam mobil aku mencoba memejamkan mata sejenak, tapi tidak bisa. Paling tidak ada perasaan lega, karena aku sudah tiba di Jakarta.

Sesamapai di rumah, ibu menyambutku dengan terheran2. Cara jalanku yang aneh dan badanku yang semakin kurus membuatnya sedikit khawatir. Napsu makanku malam itu sangat jelek, tidak ada sesuap nasi pun yang dapat kutelan, akhirnya ibu menyuruhku memakan roti yang kebetulan tersedia cukup banyak.

Paginya, kakiku yang kesemutan makin menujukkan gejala yang aneh. Saat aku sedang berjalan dengan santai, tiba2 salah satu lututku lemas, sehingga keseimbanganku terganggu. Aku mulai memakai tongkat kayu seperti nenek2, tongkat itu hanya kutenteng untuk jaga2. Tapi, tampaknya semua percuma, karena saat aku menuruni anak tangga yang jaraknya tidak jauh, lutuku kembali lemas dan aku terjatuh. Seelah itu aku tidak berani berjalan tanpa merambat,karena lututku yang selalu tiba2 lemas dan membuatku terjatuh.

Hari itu, aku memutuskan untuk tetap berada di tempat tidur, berbekal air mineral dan buku novel.
***
5 Desember 2009

Beberapa hari berikutnya, aku makin tidak bisa berjalan sendiri alias harus dituntun. Ada apakah gerangan dengan tubuhku. Kedua orangtuaku berjanji membawaku ke rumah sakit.

Hari ini keponakanku berulang tahun yang ke 1. Zefira namanya. Tapi, karena harus ke rumah sakit, aku belum tahu kapan bisa menyerahkan kado untuknya.

Sesampai dirumah sakit siang itu, dokter umum menyuruhku untuk memeriksakan ke dokter special syaraf. Aku diberikan surat pengantar. Alasan dokter itu karena penyakitku mungkin berkaitan dengan syaraf.

Aku dan kedua orangtuaku balik lagi ke rumah sakit sore itu. Kami menemui dokter syaraf yang seorang wanita. Pembawaannya tegas, mungkin karena itu pasien2 sepertiku bisa lebih menurut. Dia memeriksaku dan dengan cepat menyuruh kedua orangtuaku berdiskusi, karena aku harus masuk rumah sakit untuk di opname saat itu juga.

Semua berlangsung cepat, orangtuaku setuju. Aku menjalani beberapa tes, dan aku bermalam di rumah sakit malam itu.

Seumur2, belom pernah aku nginep di rumah sakit. Baju ajagak bawa, apalagi alat komunikasi macem hape.Aku minta agar bapakku membawakan hapeku yang tertinggal di rumah, beserta baju2 dasterku. Mana enak, berbaring pake baju yang gak longgar. Daster adalah pakaian kebangsaan saat di rumah.
***